Tharekat An Naksyabandiyah

Tharekat Naksyabandiyah didirikan oleh Syaikh Muhammad bin Baha’uddin Al uwais Al Bukhari (717 H-791 H). Dia biasa di namakan Naksyabandi terambil dari kata Naksyaband yang berarti lukisan, karena Keahlian dalam memberikan lukisan kehidupan yang ghaib-ghaib (DalamThe Darvishes, karangan J.p Brown).
Kata Naksyaband itu diartikan sama dengan Penjagaan bentuk kebahagiaan hati (dalam Berlin Catalgue: karangan Ahlwardt).

Muhammad bin Baha’uddin An Naksyabandi lahir di desa bernama Hinduwan yang kemudian bernama Arifan, yaitu beberapa kilometer dari Bukhara. Sebagaimana Wali-Wali yang lain Syaikh Muhammad Baha’uddin juga mempunyai cerita dan tanda kelahiran yang aneh. Tiga Hari Sebelum Beliau lahir pada suatu hari seorang wali besar Muhammad Baba Sammasi berjalan melalui desa Arifan. Ketika masuk desa tersebut Beliau berkata kepada teman-temannya : ”Bau harum yang kita cium sekarang ini, datangnya dari bayi yang akan lahir di desa ini.” Setelah Bayi itu lahir lantas diantarkan kepada Syaikh Muhammad Baba, dan diterima dengan penerimaan yang penuh gembira seraya berkata: ”Ini adalah anakku, dan baik saksilah kamu, bahwa aku menerimanya”. Tatkala Ayah Baha’uddin menghadap agar anaknya tidak di sia-siakan, Syaikh Amir Kulal meletakkan tangan di dada Bayi itu dan berkata: ”Jika saya sia-siakan haknya, pendidikannya dan rawatan untuknya yang lemah lembut, bukanlah aku ini seorang yang punya kedudukan dalam sejarah Baha’uddin.”
Kitab jami’ul Usul menceritakan bahwa Arifan adalah desa yang subur dan makmur dan penduduknya berakhlak baik pula dalam tahun 718 H (1317), di iringi dengan kejadian-kejadian ajaib di luar kiraan manusia mengenai diri wali ini.

Syaikh Muhammad Baha’uddin An Naksyabandi diceritakan mempunyai Nasab keturunan dengan Qutub Sufi besar yaitu Syaikh Abdul Qodir Al Jailani, yang masih keturunan dari Hasan bin Ali bin Abi Tholib, kemenakan Nabi Muhammad s.a.w. dan Khalifah yang ke enam.

Diceritakan, bahwa Syaikh Baha’uddin mendapat pelajaran Tharekat dan ilmu adab dari Qutub Amir Kulal. Tetapi ilmu hakikat banyak Beliau peroleh dari Syaikh Uwais Al Qorni, karena Beliau di didik kerohaniannya oleh Syaikh Khalik Al Khujdawani yang mengamalkan pendidikan Uwais itu.

Kemudian diceritakan bahwa beliau pergi ke Samarkand lalu ke Bukhara dan belajar selama tujuh tahun kepada Seorang Arif Syaikh Ad dikkirini, setelah itu Beliau bekerja pada Sultan Khalid yang pemerintahannya pernah dipuji oleh Ibnu Batutah dalam Kitab sejarahnya. Banyak sedikit kemasyhuran tersebut konon adalah disebabkan Syaikh Bahauddin Naksabandi. Sesudah Raja yang dilayani mangkat (1347 M), Beliau lalu pulang ke Zewartun dimana kehidupan Sufi dan Zuhud dilakukan selama tujuh tahun melakukan amal untuk manusia dan binatang. Hari-hari akhir dalam usia Beliau bertempat di desa kelahirannya ditengah-tengah keluarga dan murid-murid yang mencintainya dalam tahun 791 H (1389 M).

Tharekat Naksyabandiyah berhubungan langsung kepada Nabi Muhammad s.a.w, diterangkan silsilahnya oleh Muhammad Amin Al Kurdi dlm Kitabnya ‘Tanwirul Qulub’
(Mesir 1343 H), Katanya Syekh Baha’uddin Naksyabandi beroleh Tharekat dari Amir Kulal bin Hamzah, yang mengambil dari Muhammad Baba As Sammasi, yang mengambil pula dari Ali Al Ramitni (Syaikh Azizan), menerima dari Syaikh Mahmud Al Fughnawi, mengambil dari Syaikh Arif Riyukri, dari S. Abdl Kholiq Al Khujdawani, dari S. Abu Yakub Yusuf Al hamdani, dari S. Abu Ali Fadhal bin Muhammad At Thusi Alfarmadi, dari Abul Hasan Ali bin Ja’far Al Khirqani, dari S. Abu Yazid Al Bistami, sambung menyambung sampai Kholifah Abu Bakkar As Shiddiq r.a. yang menerima langsung Tharekat itu dari Nabi Muhammad s.a.w. yang dicurahkan melalui Malaikat Jibril oleh Allah Subhanahu Wa Ta’alaa. Memang banyak yang mencari hubungan Tharekat dengan Shahabat Abu Bakkar As Shiddiq r.a. Karena di curahkan ilmu yang istimewa kepada beliau.
Sabda Nabi Muhammad s.a.w. :
”Tidak ada sesuatupun yang dicurahkan Allah kedalam dadaku, melainkan aku curahkan kembali ke dalam dada Abu Bakar.”

Tharekat Naksyabandiyah merupakan suatu Tharekat yang lebih dekat pada tujuannya, dan lebih mudah untuk mencapai derajad, karena di dasarkan atas pelaksanaan yang sangat sederhana. Misalnya :
mengutamakan latihan rasa lebih dahulu (Jazbah) daripada latihan suluk yang lain.
Kedua sangat kokoh memegang Sunnah Nabi s.a.w. dan menjauhkan bid’ah (sesuatu yang baru dalam agama), menjauhkan diri dari sifat-sifat yang buruk dan memakai sifat yang baik dan akhlak yang sempurna. Tharekat Naksyabandiyah mengajarkan dzikir-dzikir yang sederhana, lebih mengutamakan dzikir hati daripada dzikir memakai mulut dengan mengangkat suara.

Jika diringkas tujuan pokok Tharekat Naksyabandiyah yang dasar adalah:
1. Taubah.
2. Uzlah.
3. Zuhud.
4. Taqwa.
5. Qona’ah.
6. Taslim.

Untuk mencapai ini mereka jadikan rukun tarekatnya enam pula :
1. Ilhm.
2. Hilm.
3. Sabar.
4. Ridho.
5. Ikhlas.
6. Akhlak yang baik.

Ada enam hukum yang dijadikan pegangan :
1. Ma’rifat.
2. Yakin.
3. Sakha.
4. Sadaq
5. Syukur.
6. Tafakkur tentang apa yang diciptakan Tuhan.

Enam perkara yang wajib dikerjakan dalam Tharekat ini ialah:
1. Dzikir.
2. Meninggalkan hawa nafsu.
3. Meninggalkan urusan keduniawian.
4. Melaksanakan Ajaran Agama dengan kesungguhan.
5. Berbuat baik kepada semua makhluq.
6. Melakukan amal kebajikan.

(Kitab Mutiara Tharekat Naksyabandiyah, Kitab Mas-alah)

Roh dalam Tharekat Naksyabandiyah.

Roh ataupun Malaikat bukanlah pria bukan pula wanita, tidak berdarah, tidak berdaging, tidak bertulang, Roh itu memenuhi ruangan, dan Roh tidak dikandung waktu dan tempat. Roh itu tidak beranak dan diperanakkan. Roh itu kekal tidak akan mati dan Dia hidup selamanya. Sebelum Adam dan Hawa tercipta Roh itu telah ada. Bahkan Roh terdahulu diadakan Allah Ta’alaa daripada langit dan bumi. Walaupun Roh itu berapa banyaknya dan berapa besarnya, dapat bertempat pada ruang yang sempit. Keadaannya seolah-olah seperti cahaya, berapapun besarnya dapat juga masuk dalam sebuah bilik. Bagaikan lampu yang menyala maka sinarnya dapat masuk dalam bilik itu. Jika kita masukkan lagi beberapa lampu dan kita pasang maka cahaya beberapa lampu itu dapat pula diterima dalam bilik itu. Bilik tidak menjadi sesak karena cahaya lampu tidak menyesakkan bilik itu. Inilah permisalan Roh yang mudah difikirkan yang keadaanya berlawanan dengan badan kasar (alam benda).
Roh itu meskipun berupa sebagaimana rupa yang dipunyainya, tapi ia tidak berdarah, berdaging, berkulit, dan sebagainya seperti badan kasar dan tidak di pengaruhi unsur tanah, api, air, udara. Roh dapat berpindah-pindah ke tempat yang jauh dengan sendirinya tanpa menggunakan kendaraan atau alat angkutan. Roh dapat berupa dan berbentuk seperti rupa manusia tapi bukan seperti rupa bentuk dengan mata kepala kita.
Roh pada diri manusia seperti kawat yang menghubungkan antara alam jasad dan alam Roh. Roh pada manusia seperti badan kasarnya tercipta serupa bayangan yang bersamaan dengan sifatnya, bentuk dan bangunnya. Ibarat gambaran dari sebuah rumah, yang kemudian didirikan menurut lukisan dari gambar itu.
Roh yang ada pada manusia itu yang membawa orang hidup berpindah-pindah kemana-mana tempat sewaktu sedang tidur atau sedang bermimpi. Ia mengerjakan beberapa pekerjaan dengan tidak di tinggalkan oleh jiwanya. Dengan demikian seseorang dapat melihat, dan mengerjakan sesuatu dalam hitungan detik saja, sedang bila dikerjakan dengan badan kasar butuh waktu yang lama.
Roh itu suatu badan yang halus, yang berhubungan erat dengan badan yang kasar, bagaikan percampuran air dengan tumbuhan hijau. Roh itu semacam unsur bersinar yang berupa lagi halus. Ia memikul kekuatan hidup, panca indra, bergerak, dan bersemangat.

Roh bangsa binatang ialah sebangsa unsur yang berhubungan erat dengan tubuh kasar, dikala tidur lepas dan lenyaplah cahaya dari luar tubuh, tapi tidak lenyap didalam tubuh. Roh itu suatu tubuh yang bukan seperti tubuh kasar. Ia sebangsa nur (cahaya) yang tinggi serta halus dan senantiasa bergerak meresap di dalam anggota tubuh dan berjalan didalamnya, bagai jalannya air dalam bunga mawar, atau seperti cahaya api dalam arang. Adapun Roh istimewa pada Manusia (tidak ada pada binatang) ialah suatu atau sejenis benda yang bercahaya bagaikan unsur yang bersinar yang dapat memikul beban hidup yang menyebabkan anggota kasar punya perasaan dan kemauan.
Roh itu tidak dikurung dalam tubuh kasar manusia, dan tidak dilepaskan diluar badan kasar, tidak bercerai berai dengan badan kasar yaitu Roh berhubungan dengan badan kasar.
Badan kasar seolah-olah sangkar dan Roh sebagai burung. Kalau Roh itu tidak mengingati Alloh Ta’alaa, maka syaitan, iblis dapat membisikkan kepada Roh agar manusia mengerjakan apa yang dilarang Alloh Ta’alaa.
Bagaimana hakikat perhubungan Roh dengan badan, Allah yang Tahu. Siapa mengenal Rohnya, atau jiwanya atau dirinya, berarti ia telah mengenal Alloh.

Roh dikatakan sakit tuli, bisu, dan buta jika tidak mengingati Alloh. Oleh karena itu ahli Tharekat Naksyabandiyah mengajarkan mendidik Roh, agar Roh itu lancar mengerjakan 17 mata pelajaran yang telah dimiliki.
Jika murid-murid ikhlas menerima Bai’at Ilmu Tharekat Naksyabandiyah, Insya Allah dengan mudah, yakin, ‘ainul yakin, haqul yakin akan membenarkan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad s.a.w.

Wallahu A’lam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: